Perlukah Ibu Hamil Minum Susu?

Bagaimana jika ibu hamil sama sekali tidak minum susu?

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Kemaren saya bertemu dengan seorang teman yang baru saja mendapati dirinya positif hamil. Dan satu pertanyaan sempat terlontar, “Apakah ibu hamil harus/wajib minum susu ibu hamil?”

Saya yakin ada beberapa pertanyaan serupa yang muncul di benak moms-soon-to-be terutama yang baru pertama kali hamil. Sudah menjadi semacam “kebiasaan” atau tradisi bahwa ketika seorang wanita mengetahui dirinya hamil, maka ia pasti mulai minum susu ibu hamil. Tapi, sebenarnya apakah memang harus?

Yang paling penting dari susu ibu hamil adalah kandungan nutrisinya. Walaupun komposisi yang ditawarkan brand satu dengan lainnya hampir serupa, tapi paling tidak perhatikan kandungan nutrisi yang ada didalamnya, seperti: vitamin (vitamin A, C, B kompleks, E, asam folat, vitamin D3), Kalsium, zat Besi, dan beberapa mineral lain (magnesium, fosfor, yodium, selenium).

Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah rasa. Ya, memang sepele, tapi menurut saya cukup penting, karena rasa berhubungan dengan selera, dan selera tiap calon ibu berbeda-beda bukan? Jadi pilihlah produk susu ibu hamil yang cocok dengan selera Anda, yang membuat Anda menikmatinya.

Nah, pada prinsipnya saat kehamilan (terutama trimester 1), adalah saat yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin. Saat itu adalah saat dimana kandungan nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu akan menentukan tercukupinya kebutuhan pertumbuhan si janin. Jika ibu hamil dapat memenuhi kebutuhan vitamin, mineral dan nutrisi penting lainnya saat kehamilan, hanya dari makanannya, pada dasarnya suplemen tidak dibutuhkan. Tapi kita kan tidak pernah bisa mengetahui dan mengukur dengan pasti jenis dan jumlah nutrisi yang kita dapat dari makanan sehari-hari kita. Suatu hari mungkin makanan kita sudah mengandung seluruh nutrisi yang diperlukan saat kehamilan, tapi di hari berikutnya tidak demikian.

Oleh sebab itu, produk susu ibu hamil adalah baik untuk dikonsumsi, tapi prinsip dasarnya adalah hal itu bukanlah suatu keharusan. Susu akan berfungsi sebagai pelengkap nutrisi bagi ibu hamil. Jika ibu hamil tidak minum susu, tapi kebutuhan nutrisinya benar-benar tercukupi, maka kehamilannya pun akan lancar dan bayi yang dilahirkan sehat. Tapi -sekali lagi- jika kita tidak yakin, then apa salahnya kita mengonsumsi susu ibu hamil? Asalkan rasanya enak, dan bisa memberi nilai nutrisi yang dibutuhkan janin di dalam perut…

Tips Menyusui dengan Botol

Ketika ibu harus memberi susu kepada bayinya melalui botol

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Asupan nutrisi terbaik untuk bayi baru lahir memang adalah ASI. Bahkan WHO pun menganjurkan agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama minimal 6 bulan pertama kehidupannya. Setelah masa ASI eksklusif itu, bisa dilanjutkan dengan tetap memberikan ASI atau dicampur dengan susu formula.

Yang hari ini ingin dibahas adalah tentang pemberian susu dengan susu botol (yang artinya bisa saja ASI ditaruh dalam botol atau susu campuran ASI dan susu formula). Saya pernah menulis artikel tentang sangat pentingnya ASI.

Saat Anda memberi minum bayi Anda dengan susu botol, maka pilihannya adalah bisa menggunakan botol plastik atau botol kaca. Beberapa moms memilih botol plastik, karena lebih ringan dan relatif lebih praktis. Tapi ada isu bahwa botol plastik ada yang mengandung kandungan zat kimia bisphenol A (BPA). Nah untuk menghindari hal itu, carilah botol susu plastik yang bertuliskan “BPA-free.”


Nah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian susu dengan menggunakan botol:

  • Botol susu perlu disterilisasi, dimasukkan dalam air panas selama 5-10 menit, baru kemudian dicuci dengan sabun deterjen dan air. Pastikan membilasnya dengan air hingga benar-benar tidak ada deterjen yang tersisa.
  • Nipple dari botol susu juga penting diperhatikan, besarnya, juga perlu diperhatikan apakah ada yang rusak, terlalu lama dipakai, karena dikuatirkan bisa membuat bayi tersedak.
  • Sebaiknya sih ibu tetap memberikan ASI, walaupun metode pemberiannya lewat botol susu (ASI terlebih dahulu dipompa). Jika harus mencampurnya dengan susu formula, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, susu formula apa yang terbaik untuk bayi Anda. 
  • Dianjurkan untuk menghangatkan susu terlebih dahulu, dengan cara merendam botol susu dalam air panas. Sebelum memberikannya pada bayi, lakukan tes suhu botol dengan meneteskan susu ke bagian atas tangan (punggung tangan).

Jika bayi Anda sudah cukup minum susu, ia mungkin akan memberi tanda dengan gerakan mengelak dari botol susu. Jika hal ini terjadi, jangan memaksakan dirinya untuk menghabiskan susu itu. Susu yang sudah terpakai dan masih tersisa, sebaiknya dibuang jika tidak diminum dalam 2 jam.

Lebih Jauh tentang Sel Induk

Masa depan teknologi kedokteran sepertinya terletak pada ilmu dan penerapan tentang sel induk

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Sampai hari ini masih cukup banyak perdebatan (atau keraguan) tentang teknologi sel induk. Apakah sel induk benar-benar berguna atau hanyalah suatu marketing gimmick dari suatu teknologi medis terbaru.

Sebelum berdiskusi lebih lanjut, sel induk adalah suatu sel master yang merupakan awal (cikal-bakal) dari sel-sel lain, baik sel ‘anakan’ maupun sel lain yang kemudian dapat berdiferensiasi dan melakukan spesialisasi menjadi bentuk sel spesifik tertentu. Untuk pengertian mudahnya, semua sel dalam tubuh kita berasal dari sel induk yang sama (sel embrio setelah terjadi pembuahan). Nah, saat pertumbuhan dan perkembangannya, sel induk akan membelah, memperbanyak diri, dan melakukan diferensiasi menjadi sel-sel khusus, seperti: sel otot, jantung, hati, dan tulang, bahkan organ-organ tubuh lainnya.

Sel induk dapat diambil dari sel embrio (yang mana belum banyak dilakukan sekarang, karena alasan etis), dapat juga diambil dari sel induk dewasa, seperti: sel induk dari darah tali pusat bayi yang baru lahir, diambil dari sumsum tulang belakang orang dewasa (yang dengan mendengarnya saja seakan kita dapat membayangkan sakitnya).

Nah, apa sih yang dapat dilakukan oleh sel induk? Apakah manfaat dari sel induk tersebut?

Terapi menggunakan sel induk adalah suatu bentuk tekonologi di bidang kesehatan yang akhir-akhir ini sedang gencar dikembangkan. Karena sel induk memiliki kemampuan untuk membelah diri dan merupakan cikal bakal dari jenis sel lain, maka sel induk tersebut dapat dipakai untuk menggantikan sel organ tubuh tertentu yang sudah rusak atau tidak berfungsi. Prinsip dasarnya sebenarnya mirip dengan transplantasi organ, hanya saja di sini yang digunakan adalah tingkat sel, dan bukan organ. Oleh sebab itu jenis teknologi terapi ini sering disebut sebagai ilmu kedokteran regenerasi.

Sel induk bisa dimanipulasi di laboratorium untuk kemudian dikembangkan menjadi sel-sel khusus, seperti sel otot, sel darah, sel saraf, bahkan tulang. Sebagai contoh, pasien dengan penyakit jantung, maka dengan teknologi sel induk, sel otot jantungnya yang kurang berfungsi bisa diganti dengan sel otot jantung yang baru.

Sampai hari ini, ada lebih dari 75 penyakit yang dapat diobati melalui terapi sel induk ini, dan saya cukup yakin bahwa di masa depan -dengan semakin majunya teknologi kedokteran- akan semakin banyak penyakit yang bisa ditemukan terapi dan solusinya dengan menggunakan sel induk.

Inkompetensi Serviks

Kondisi tersebut dapat mengakibatkan keguguran dan kelahiran prematur

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Ada suatu kondisi yang merupakan komplikasi kehamilan, disebut Inkompetensi Serviks. Dasar saya menulis artikel ini adalah karena baru saja beberapa hari lalu saya mendengar bahwa saudara saya sudah sempat hamil, namun keguguran dengan diagnosa akibat inkompetensi serviks.

Inkompetensi serviks adalah suatu kondisi dimana mulut rahim (serviks) mengalami pembukaan dan penipisan sebelum waktunya, sehingga tidak bisa menahan janin, dan mengakibatkan terjadinya keguguran atau kelahiran prematur. Kasus ini biasa terjadi tanpa disertai rasa nyeri, dan umumnya terjadi pada trimester 2 dan 3 kehamilan.

Beberapa faktor risiko dipercaya merupakan penyebab terjadinya kondisi inkompetensi serviks tersebut, diantaranya:

  • Riwayat inkompetensi serviks sebelumnya
  • Trauma atau riwayat prosedur melalui mulut rahim
  • Konisasi atau biopsi mulut rahim
  • Kelainan anatomis mulut rahim 

Selain faktor-faktor diatas, infeksi juga dicurigai bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya inkompetensi serviks. Sedangkan metode atau prosedur dilakukannya kuret seharusnya tidak menimbulkan kemungkinan inkompetensi serviks.

Ketika seorang wanita hamil mengalami kasus ini, maka ada kemungkinan kasus ini dapat berulang di kehamilan berikutnya. Itulah sebabnya perlu untuk dilakukan diagnosa secara pasti oleh dokter kandungan. Dan biasanya jika terjadi kemungkinan kasus inkompetensi serviks, maka dokter akan memasang cerclage (setelah usia kehamilan 14 minggu), untuk menahan mulut rahim tidak membuka dan melebar (dilatasi). Bahkan kadang juga ditambah dengan dijahit di sekitar daerah mulut rahim, dan nanti jahitan akan dibuka sekitar usia kehamilan 37 minggu untuk persiapan persalinan.

Cegah Kanker Serviks

Setiap wanita memiliki kesempatan untuk melindungi dirinya dari kanker serviks

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Akhir-akhir ini mungkin Anda sering mendengar tentang kampanye pencegahan kanker serviks. Kanker serviks bisa dibilang merupakan musuh setiap wanita di seluruh dunia. Wanita yang terkena kanker serviks tidak hanya menderita secara fisik, tapi juga secara mental dan finansial.

Kanker serviks adalah suatu perubahan sel menjadi sel kanker ganas yang terjadi di daerah serviks (mulut rahim). Penularan terbesar adalah melalui hubungan seksual, dan telah diketahui bahwa agen penyebab terjadinya kanker serviks adalah virus HPV (Human Papilloma Virus). Penelitian juga membuktikan bahwa dari ratusan macam tipe virus HPV, HPV 16 & 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks di dunia (produk vaksin yang tersedia di dunia memiliki efek perlindungan terhadap kedua virus HPV tersebut).

Di Indonesia, tiap jam seorang wanita meninggal karena kanker serviks. Sedangkan di dunia, tiap 2 menit seorang wanita meninggal akibat kanker mematikan tersebut. Yang mengenaskan adalah sebagian besar kasus tidak disertai gejala pada saat infeksi terjadi. Pasien biasanya memeriksakan diri ke dokter saat mendapati gejala perdarahan (biasa terjadi setelah hubungan seksual). Hal inilah yang menjadi alasan mengapa banyak kasus baru diketahui dan terdiagnosa pada stadium lanjut. 

Di samping beban fisik dan psikis, secara finansial, beban akibat kanker serviks juga cukup besar. Taruhlah pemeriksaan dan terapi (meliputi operasi, pemeriksaan laboratorium, biopsi, hingga radioterapi dan kemoterapi), itu semua bisa mencapai angka puluhan juta.

Beberapa faktor yang berperan dalam terjadinya kanker serviks adalah: kebiasaan merokok, usia muda saat pertama kali berhubungan seksual, sering berganti-ganti pasangan, angka kehamilan yang tinggi. Seperti telah disebutkan di atas, penularan terbesar virus HPV adalah melalui hubungan seksual. Dan data penelitian menyebutkan bahwa sedikitnya 80% wanita usia reproduktif pernah terpapar dengan virus HPV semasa hidupnya.

Pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati. Setiap wanita yang telah menikah (atau telah aktif berhubungan seksual) dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan pap smear secara berkala. Prosedur pap smear dilakukan untuk mendeteksi apakah ada kelainan pada sel di daerah serviks (mulut rahim) tersebut. Pemeriksaan ini -walau sedikit tidak nyaman- tapi biayanya relatif murah, apalagi jika dibandingkan dengan kondisi telah terdiagnosa kanker serviks.

Jika pap smear bersifat sebagai metode pencegahan sekunder (karena berusaha untuk mendeteksi sedini mungkin terjadinya perubahan sel di daerah mulut rahim), maka vaksinasi adalah metode pencegahan primer yang sangat dianjurkan. Dengan vaksinasi maka seorang wanita akan terlindungi (hingga 80%) dari virus HPV onkogenik (virus penyebab kanker).

Jadi, sudahkah Anda mendapatkan vaksin HPV anda?

Fakta tentang Cairan Ketuban

Tahukah Anda bahwa janin meminum urin-nya sendiri di dalam kandungan?

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Janin di dalam rahim bisa dibilang berada dalam kondisi yang sangat aman dan nyaman. Semua nutrisi terpenuhi, dan janin juga dilindungi lapisan otot dinding perut, rahim, dan bantalan cairan didalamnya. Nah hari ini saya ingin membahas sedikit tentang cairan ketuban (amniotic fluid).

Cairan ketuban akan bertambah banyak seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, hingga mencapai puncaknya pada sekitar minggu 34-36, yaitu mencapai 800-1000 ml. Cairan itu memiliki beberapa fungsi yang cukup penting sepanjang masa kehamilan, seperti:

  • Cairan ketuban merupakan pusat pertukaran zat antara ibu dan janin, yang mana mengandung zat-zat seperti: protein, karbohidrat, phospholipid, dan elektrolit yang diperlukan janin.
  • Sebagai pelindung (semacam bantalan) terhadap trauma dan benturan.
  • Cairan ketuban merupakan hasil produksi metabolisme didalam tubuh janin, yang oleh janin akan dihirup dan ditelan, dan kemudian dikeluarkan dalam bentuk urin, dan (this is the fact!) si janin akan meminum urinnya tersebut kembali.
  • Cairan ketuban membuat janin bisa bebas bergerak-gerak (yang akan semakin berkurang mendekati persalinan, dikarenakan ukuran janin yang kian membesar dan ruang gerak yang semakin “sempit); hal ini dapat membantu melatih pertumbuhan otot si janin.

Selain fungsi di atas, janin juga memerlukan cairan ketuban ini untuk pertumbuhan paru-parunya. Ketika janin menghirup cairan ketuban ini, maka hal ini akan merangsang pertumbuhan jaringan paru-parunya, yang nantinya disiapkan untuk jalan masuk udara saat ia lahir.

Karena cairan ketuban mengandung banyak sel-sel janin, maka cairan ini dapat dipakai untuk analisa ada tidaknya kelainan pada pertumbuhan janin dan kesehatan genetik bayi. Prosedur ini disebut amniocentesis (yaitu mengambil sampel cairan ketuban).

Pada artikel terpisah, saya akan menjelaskan kondisi-kondisi seperti jumlah cairan ketuban yang sedikit (oligohydramnios) atau jumlah cairan ketuban yang berlebih (polyhydramnios). Sebagai contoh, jika jumlah cairan ketuban berlebihan, bisa jadi ada problem pada saluran pencernaan janin (karena seharusnya janin ‘meminum’ cairan ketubannya). Nah, kondisi tersebut dapat digunakan sebagai suatu perkiraan akan kondisi medis tertentu.

Beberapa studi dan penelitian akhir-akhir ini mengungkapkan suatu penemuan dugaan bahwa cairan amnion (ketuban) memiliki kadar stem cell (sel induk) yang cukup yang kemungkinan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi organ dan jaringan tubuh (sama dengan sel induk dari darah tali pusat).

Asma dan Kehamilan

Asma harus dikontrol selama masa kehamilan demi kesehatan ibu dan janin

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Bagi sebagian wanita yang memiliki penyakit asma (ada sebagian yang bahkan telah mengalaminya sejak kecil), mungkin akan kuatir ketika memikirkan tentang kehamilan. Pada dasarnya jika diperhatikan dan ditangani dengan baik, maka seorang wanita dengan asma tidak akan mengalami masalah dalam kehamilannya, dan bayinya pun akan lahir dengan baik dan sehat.

Apa sih bahayanya jika saat hamil, asma tidak dikontrol dengan baik? Penyakit asma tidak bisa dianggap sepele. Karena asma yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya tekanan darah yang meningkat pada kehamilan, dan bisa berujung pada preeklampsia bahkan eklampsia (kejang pada kehamilan), dan bisa berujung pada komplikasi persalinan dan kelahiran prematur.

Lalu amankah mengonsumsi obat asma pada saat hamil? Penelitian telah membuktikan bahwa lebih banyak kerugian yang terjadi jika wanita hamil dan mengalami asma tidak mengontrol asmanya tersebut. Hal yang paling penting dan mendasar adalah, berkonsultasilah dengan dokter Anda untuk terapi yang paling tepat bagi asma Anda. Yang biasanya dianjurkan pada kasus asma dalam kehamilan adalah obat inhaler (obat asma hisap), dikarenakan jumlah obat yang dihisap cukup kecil dan langsung masuk ke paru-paru, sehingga tidak membahayakan bagi janin.

Nah, pada kasus asma, sebagian besar dapat ditemukan hubungan dengan kejadian alergi. Beberapa bahan/materi yang menyebabkan alergi dapat memicu terjadinya serangan asma; itu bisa berupa: debu, makanan, suhu dingin, binatang piaraan, dan lain-lain. Oleh sebab itu sebaiknya pasien dengan asma memahami apa saja yang dapat memicu terjadinya serangan asma, dan berusaha seoptimal mungkin untuk menghindarinya.

Pada kehamilan, asma dapat menjadi lebih buruk, dapat menjadi lebih baik, atau tetap dalam kondisi seperti semula. Kemungkinannya sama besar. Beberapa hal yang menjelaskan mengapa asma dapat memburuk pada kehamilan adalah mungkin karena sering terjadinya gastroesophageal reflux (aliran balik makanan beserta asam lambung ke atas, yang disertai heartburn). Itulah sebabnya wanita hamil sebaiknya makan sedikit-sedikit tapi lebih sering.

Asma yang terkontrol dengan baik tidak akan mempengaruhi proses persalinan nantinya, dan bahkan obat-obat yang berkaitan dengan terapi asma pun tidak menjadi masalah jika dikonsumsi oleh si ibu pada saat ia menyusui bayinya. Memang bisa ada zat dalam obat yang ikut ter-transfer ke bayi melalui ASI, tapi jumlahnya relatif sangat kecil, sehingga tidak berdampak buruk bagi si bayi.

Pancake untuk Sarapan

Resep sederhana, praktis, dan berkalori untuk si kecil

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Bingung dengan menyiapkan hidangan sarapan untuk si kecil (dan juga keluarga)? Bagaimana dengan sesekali mencoba pancake sebagai menu sarapan?

Pancake termasuk salah satu menu yang cukup mudah dibuat (hhmm, secara saya ga bisa masak, maka saya tidak akan berbagi resep cara membuatnya disini). Maafkan saya seorang dokter yang sedang mencoba menjadi seorang chef, hehehe..

Yang saya tahu, pancake “hanya” membutuhkan tepung, telur, susu, dan gula dan sedikit garam untuk membuatnya. Campuran tepung, susu, gula diaduk lalu dituangkan di atas panci yang telah dilumuri mentega (ooppss, bener ga yah? hehehe), dan ditunggu beberapa saat, dibolak balik hingga kecoklatan, harusnya sih jadi deh! Yang artinya cara membuatnya seharusnya tidak ribet dan tidak membutuhkan waktu dan persiapan yang lama, jadi cukup praktis untuk sarapan si kecil.

Nah, yang menarik, pancake bisa dihidangkan dalam menu manis atau asin. Menu manis, tinggal tambahkan madu (yang mengandung nilai nutrisi yang baik), dan sedikit buah-buahan seperti strawberry atau blueberry. Sesekali tambahkan 1 scoop ice cream vanilla untuk si kecil (yummyy!!). Jika Anda memilih tema asin, maka boleh ditambahkan scrambled egg, sosis atau ham dan sayuran (dengan sedikit mayonaise dressing).

Tentunya nilai-nilai nutrisi yang terkandung didalamnya, baik karbohidrat dan protein akan cukup untuk dipakai menjadi sumber energi aktivitas si kecil seharian (hingga waktu makan siang tiba). Selamat mencoba!

*Ohya, feel free yah, kalo ada yang mau berbagi resep sederhana (dan enak tentunya) cara membuat pancake, please share to all of us..

Pijat saat Hamil

Amankah pijat di masa kehamilan?

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Saat hamil, apalagi jika sudah menginjak usia kehamilan trimester 3, seringkali muncul keluhan nyeri punggung belakang (backpain). Ya, hal itu adalah hal yang wajar terjadi, namun rasanya kadang benar-benar mengganggu. Untuk hal itu, pijat tampaknya adalah ide yang menarik. 

Tapi, bolehkah wanita hamil dipijat selama kehamilannya? Amankah bagi kehamilan? Jawaban singkatnya: selama dilakukan oleh terapis yang benar dengan cara yang benar, maka prenatal massage adalah hal yang boleh dilakukan. Walaupun belum pernah dilakukan studi secara serius terhadap prenatal massage, tapi dipercaya bahwa pijat dapat menurunkan kadar stress dan membawa suatu relaksasi bagi wanita hamil. Jadi, benefits-nya tidak hanya secara fisik, tapi juga secara psikologis.

Jika dilakukan dengan benar, pijat dapat merelaksasikan otot dan persendian. Backpain yang biasa dialami di trimester akhir kehamilan, juga bisa berkurang.

Ada beberapa hal tapi yang perlu diperhatikan oleh wanita hamil yang ingin dipijat saat hamil.

  • Jika Anda ada di fase awal kehamilan, beritahukan ke terapis anda bahwa Anda sedang hamil.
  • Jika perut Anda sudah cukup besar, posisi miring ke samping adalah posisi yang paling nyaman. 
  • Komunikasikan dengan terapis Anda kadar tekanan/kekuatan dalam pijatan tersebut. Dan ingatlah, karena Anda hamil, mungkin Anda lebih baik untuk dipijat tidak terlalu keras.
  • Jika Anda memiliki alergi terhadap minyak tertentu, atau bahan-bahan yang mungkin digunakan dalam sesi prenatal massage, sebaiknya Anda beritahukan di depan kepada terapis Anda.

Jadi, prinsipnya pijat saat hamil tidak dilarang. So, enjoy your prenatal massage, moms!

Stress dan Kehamilan

Wajar ga sih jika wanita hamil merasakan stress dan suatu kecemasan? Bagaimana cara mengatasinya?

by  Adhiatma Gunawan
share this
| 3 people like this article
 

Stress adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam bekerja, rumah tangga, ataupun bermasyarakat, hampir pasti terjadi suatu hal yang dapat menimbulkan stress. Nah berbicara tentang wanita, stress juga merupakan suatu kompleksitas yang seringkali dipengaruhi (entah benar atau hanyalah sebuah excuse) oleh kondisi hormon dalam tubuhnya. Kerjaan yang menumpuk, tidak sependapat dengan suami, masalah rumah tangga, belum lagi anak-anak yang nakal dan susah diatur, semuanya bisa mengakibatkan tekanan secara psikologis.

Yang menarik, wanita yang sebelum hamil terbiasa untuk mengendalikan stress dalam hidupnya, tidak menjamin bahwa ia tidak mungkin stress saat hamil. Karena kondisi kehamilan adalah suatu hal yang totally different! Perasaan senang, terharu, dan bahkan sedih dapat bercampur aduk dalam masa 9 bulan kehamilan. Belum lagi kecemasan akan hal ini itu yang ujung-ujungnya berakibat pada stress.

Apa sih hal buruk yang dapat terjadi ketika wanita hamil mengalami stress dan kecemasan?

Sebuah penelitian di Inggris baru-baru ini menyebutkan bahwa kondisi stress atau depresi pada kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan. Menurut Vivette Glover -seorang profesor dalam bidang psikobiologi perinatal- saat stress, wanita akan mengalami perubahan kondisi plasenta yang selanjutnya memberi pengaruh fisik negatif pada si bayi. Hasil penelitian mereka menyebutkan bahwa prenatal depressiondikaitkan dengan angka kejadian autisme, gangguan kognitif, dan kondisi hiperaktivitas pada anak (ADHD).

Hari ini saya pingin share sedikit tentang beberapa tips untuk mengatasi masalah stress dalam kehamilan. Selain agar perjalanan pengalaman 9 bulan kehamilan berjalan dengan nyaman, stress juga perlu di-manage agar tidak terjadi hal yang dapat merugikan kehamilan tersebut:

  • Sempatkan diri untuk cukup beristirahat. Kadang memiliki waktu sendiri untuk bersantai sejenak adalah hal yang baik saat hamil. Matikan handphone Anda 1 jam saja (kasih tau suami dulu tapinya, hehe), dan beristirahatlah secara utuh, dan rasakan dampaknya.
  • Share it with your partner! Mungkin Anda selama ini terbiasa menyelesaikan masalah sendiri sebagai wanita mandiri, tapi ketika sampai pada suatu kondisi tertentu, kadang menyadari apa masalah kita dan membaginya dengan orang yang kita percaya, adalah langkah awal yang paling sederhana dalam menanggulangi stress.
  • Yoga dan Relaksasi. Yoga dapat membantu keseimbangan antara kesehatan fisik dan juga relaksasi pikiran. Setelah itu boleh sedikit berelaksasi dengan aromaterapi. Hhmm..
  • Diet dan Olahraga. Makan makanan yang sehat dan minum banyak air dipercaya dapat membantu memberi dampak positif secara fisik maupun mental. Olahraga juga bisa menjadi suatu aktivitas yang membantu meredakan stress.
  • Hindari StressSounds funny? Tapi memang benar, kadang kita membiarkan diri kita berada dalam lingkungan teman, pekerjaan, yang penuh dengan tekanan dan stressful condition. Ada baiknya untuk sebisa mungkin menghindari hal-hal tersebut .

Jadi, demi kesehatan kehamilan, sebisa mungkin hindari stress. Lakukan hal-hal yang menyenangkan, yang membuat kita bahagia. Good luck and have a healthy happy pregnancy!

Related Article

If you want to post a new question or view related questions about this article, please click here:

Question and Answers (8)

If you want to post comments about this article, you must be logged in as mom(me)world member.
Don't have an account? Registration is free. :)


Post your comment

Be the first to comment on this article!